Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryDec 9, '11 7:40 AM
for everyone

Roma. Sebuah negara yang penuh dengan sejarah. Tidak hanya itu, negara dengan pusat agama Katolik seluruh dunia itu juga sangat berkaitan juga dengan kemajuan peradaban manusia, terutama bangsa-bangsa barat. Namun, di mata saya, ke-spesial-an negara tersebut bukan hanya berhenti di situ saja: Roma adalah negara di luar negeri yang pertama kali saya kunjungi (sempet transit sebentar di Dubai sih, tapi cuma muter2 di airport-nya doang, jadi gak berasa di luar negeri :p).

Trus, penting ya kalau jadi negara yang pertama kali dikunjungi di luar negeri? Hm, mungkin kebanyakan orang merasa itu ‘gak penting, tapi nggak dengan saya. Bagi saya itu penting. Kenapa? Karena saya termasuk orang yang merasa pengalaman pertama dan momen2 awal adalah tidak akan terlupakan. Layaknya seorang buta yang baru pertama kali melihat, pastinya ia tidak akan pernah melupakan apa-apa dan siapa-siapa yang pertama kali ia lihat, ia amati. Yah, meskipun tidak benar-benar buta dengan kehidupan di luar negeri (kan ada tipi, dan internet), tapi Roma adalah tempat pertama di luar Indonesia yang membuat saya berinteraksi dan bersosialisasi langsung dengan para bule dan budaya-budaya luar.

Setelah menempuh 15 jam lebih perjalanan (di luar transit), akhirnya kami sampai juga di Roma pada 7 September 2011 lalu. Sempat bingung juga mau naik apa ke hotel *secara kami belum tau jalur bis ataupun kereta*, eh tiba-tiba saja ada supir dari KBRI datang menjemput.. awalnya sempet ragu mau naik *Secara suami dan temannya bukan tugas dinas* tapi karena dipaksa2, akhirnya kita naik juga.. *hihi.. thanks beraattttt to Pak supir dan kbri*. Selama perjalanan, saya nggak bosan2 memutar kepala ke kiri ke kanan, waw.. amaze! Dan, setelah perjalanan 30 menitan, tibalah saya dan suami di depan hotel dekat stasiun Termini.

Depan hotel Aquarium

Hotel Aquarium namanya. Kami sempat nggak percaya hotel ini beneran hotel *kalau di Indonesia ini lebih kayak hostel soalnya*. Bahkan, just for make sure ini beneran hotel, suami sampai celingak-celinguk di depan hotel dulu :D. Setelah yakin ini beneran hotelnya, barulah kami masuk  *oia, mencet tombol dulu di luar, dan baru dibuka pintunya dari dalem*. Dan, benar-benar seperti namanya, isi hotel ini layaknya aquarium: kecil dan mungil. Pemilik hotel benar2 memanfaatkan seluruh ruang agar dapat bermanfaat.

Resepsionis hotel berada di lantai dua. Karena kami membawa 2 koper yang dan tas tangan yang riweuh, kami pun memutuskan naik lift. Jangan dipikir lift nya seperti lift biasa, bukan, bukan sama sekali. Lift ini persis dengan lift yang ada di film “King’s Speech”atau mungkin lift khas zaman dulu di negara-negara barat. Yang jelas kesan pertama naik lift ini: bikin jantungan!

Lift yang bikin Jantungan :p

Awalnya, setelah menaruh seluruh barang di hotel, kami ingin jalan-jalan sore di sekitar hotel. Tapi apalah daya, dampak jet lag ternyata masih luar biasa besarnya. Kami pun tertidur pulas sampai besok paginya, hanya bangun sebentar untuk shalat jamak maghrib dan ‘isya. Zzzz,,,,

day one.

Tidur berjam-jam benar-benar membuat perut terasa laparrr sekali. Kami pun segera turun untuk sarapan. Menu sarapan yang ada: sereal dan susu, roti tawar dan mentega, ataupun aneka roti lainnya. Plus espresso coffee ataupun hot tea. Hmm, kenyanglah sang perut.

paket sarapan: roti, cornflakes, dan esspresso

Habis sarapan, kami putuskan untuk mulai mengitari area sekitar Roma. Baru beberapa menit, tibalah kami di depan bangunan gereja Basilica Santa Maria Maggiore. Setelah ceklak-ceklik foto di sekitarnya, kami pun melanjutkan perjalanan melihat-lihat bangunan-bangunan dan suasana Roma lainnya. Menjelang siang, kami pun kembali ke hotel untuk makan siang.

Waktu sudah beranjak hampir sore hari, perjalanan kami lanjutkan ke KBRI. Sebelumnya, kami sempat konsultasi dulu ke resepsionis hotel, jauh tidak daerah KBRI dari hotel. Mereka bilang tidak terlalu. Baiklah, kami pun mulai berjalan dengan tentunya dipandu peta Roma di tangan!

Sepanjang perjalanan, banyak sekali objek yang bisa difoto: pohon kurma, jeruk-jeruk yang sudah meng-oranye di pohon, hingga air mancur piazza della republica. Seriusan, air mancur ini mengingatkan saya dengan air mancur HI *Cuma bedanya di sini air mancur ini dikerumuni orang yang ingin berfoto ataupun sekedar nongkrong, bukan dipenuhi para pendemo yang membawa poster dan spanduk, hehe..*. Yak, setelah sedikit ceklak-ceklik, kami pun berjalan kembali..

 

Sudah hampir 1 jam kami berjalan, dan tanda2 keberadaan KBRI belum juga terlihat. Kami pun mulai merasa ada yang salah: yap, nyasar. Suami bersikukuh jalan yang kami tempuh sudah sesuai dengan lekukan-lekukan yang ada di peta. Tapi, pemandangan di depan mata menyatakan ‘kami salah’, karena di depan kami terhampar taman dengan banyak pohon-pohon tinggi menjulang yang jika dicocokkan di peta, taman tersebut terletak menyimpang jauuhhh sekali dari arah ke KBRI. Hehe.. baiklah, saatnya: bertanya!

15 menit sesudah kami mendapatkan petunjuk yang benar dari seorang bapak polisi Roma, kami pun tiba di KBRI.

 

Pulang dari KBRI, teman suami mengajak kami untuk menggunakan Metro Roma, semacam kereta bawah tanah. Setelah memasukkan koin 4 Euro *kalau nggak salah* di mesin tiket, keluarlah tiket yang dapat kami gunakan untuk naik kereta. Lalu, hanya dalam hitungan beberapa menit, kami pun tiba di stasiun Termini. Dan, dua potongan pizza *kalau di Indonesia udah jadi 4 potong* cukup menjadi menu makan malam kami..

 

day two.

 

Usai sarapan—dengan menu yang sama seperti hari sebelumnya, kami mulai merencanakan mau ke mana kami hari ini. Sebenarnya Roma tidaklah besar, namun cukup banyak tempat yang bisa kami kunjungi. Maka, setelah hitung-hitung waktu (dan tentunya duit, hehe) kami pun memutuskan akan ke Colosseum.

Bagi mereka yang demen banget film sebangsa gladiator, dan kawan-kawannya, berkunjung ke colosseum  harus menjadi menu wajib perjalanan mereka di Roma. Setidaknya begitulah yang saya lihat dari suami saya, hehe.. Yap, di sini kita akan melihat langsung sisa-sisa bangunan yang dahulu dijadikan sebagai arena gulat menggulat, hajar menghajar, dan ajang perkelahian para gladiator di masa lalu. Untuk sampai ke Colosseum, kami menggunakan Metro kembali, turun persis di stasiun colosseum. Begitu naik tangga keluar dari stasiun, sebuah bangunan besar pun tampak di depan mata kami. Subhanallah.

 

Sepertinya, kami tidak satu-satunya turis yang terpukau dengan bangunan bersejarah tersebut, yap.. ratusan orang sudah memenuhi tempat ini. Awalnya kami hanya akan berfoto-foto di depannya saja, namun sepertinya antrian ‘orang-orang dengan wajah tidak sabar ingin masuk’ tersebut ikut membuat kami juga ‘penasaran apa sih dalamnya colosseum’, akhirnya kami pun mengantri membeli tiket. Dan, tidak tanggung-tanggung ternyata harga tiket untuk masuk colosseum: 15 Euro! Hiks, berhubung udah ngantri cukup panjang, dibela2in deh bayar 30 Euro *sambil nenang2in hati setidaknya sekali seumur hidup...

Mulai dari antrian saja, kami sudah melihat banyak terowongan di bawah colosseum. Mungkin terowongan itu dijadikan tempat para gladiator bersiap sebelum mereka bertempur. Bagusnya, di sepanjang jalan banyak diberikan penjelasan *kayak museum jadinya* tentang penguasa-penguasa romawi, keluarganya, perang-perang, hingga sisa-sisa peralatan disajikan jelas di sana..

 

Kami pun mendekat ke bagian dalam colosseum, wah.. dari atas sini kami dapat melihat bagian tengah colosseum yang dahulu dijadikan arena pertandingan para gladiator. Hanya sayangnya, kondisi bagian tengah colosseum sudah berubah, hanya tinggal tiang-tiang penyangga nya saja. Namun, tetap saja, berada di sana *dengan posisi melihat ke bawah* seperti kembali ke zaman para gladiator.. *efek film banget ya, hehe!

 

 

Dari atas colosseum juga, kami dapat melihat Arch of Constantine, bangunan yang dibangun setelah kemenangan Constantine I dalam peperangannya.

Waktu semakin siang. Kami pun harus segera pergi dari Colosseum untuk bertemu dengan teman-teman suami. Oia, ada satu cerita lucu ketika kami keluar dari pintu keluar Colosseum. Saat itu, beberapa orang berpakaian khas gladiator menawarkan dirinya untuk berfoto bersama kami.

Kami : “no, thank you.”

Gladiator: “Terima kasih,”

Kami: terkejut, langsung menengok ke sang gladiator.

Gladiator: “sama-sama”

Kami: senyum dengan senyum paling lebar.. *hihihi.. nemu gladiator berbahasa Indonesia!!

 

Sang gladiator yang Berbahasa Indonesia

  

Day three

 

Tiga hari sarapan dengan menu yang sama membuat kami mulai membanding-bandingkan dengan sarapan khas hotel di Indonesia.

 “Kalau sarapan di hotel di Indonesia cuma roti yang disajiin bisa bangkrut tuh hotelnya, nggak ada yang mau nginep di hotel itu” kata saya.

 “Pasti setidaknya ada nasi putih, atau nasi goreng,” kata suami.

 “Kalau beruntung ada bubur ayam, bakso, atau malah soto,” kata saya lagi.

 “juga nasi uduk plus telor dan ayam goreng komplit sama sambelnya,” tambah suami saya.

 Dan kami berdua pun terdiam lirih: mulai rindu makanan Indonesia.

 

Setelah makan *sambil terbayang-bayang makanan indonesia*, kami menghabiskan hari terakhir di Roma dengan mengunjungi Fontana di Trevi, salah satu lokasi yang juga nongol di film The Lizzie McGuire Movie.

Menuju ke sana, kami memutuskan untuk berjalan kaki *setelah terlebih dahulu sang resepsionis hotel mengatakan lokasi tersebut tidak terlalu jauh. Kami pun mulai mengikuti lekukan-lekukan jalan sesuai di peta. Namun lagi-lagi: kami nyasar. Cobalah kami bertanya, tapi ternyata kami salah tanya orang, karena 3 orang bule di depan kami menjawab, “we just one day in here” ehehhe,, baiklah..

Setelah tanya ke banyaaaaakkk orang, akhirnya kami sampai di Fontana de trevi. Sebenarnya, tempat ini ‘hanyalah’ bangunan dengan kolam super bening di depannya. Namun, uniknya, hampir lantai di dasar kolam berisi penuh koin euro. Yak, ternyata ada kepercayaan setempat yang menyatakan, siapa yang melempar koin ke dalam kolam akan dapat kembali lagi ke Roma. Begitu mitosnya.

Sudah puas berfoto-foto dan mengambil rekaman video di sana, kami pun bergegas pulang. Sebelum sampai hotel, kami melihat restoran China. Berasa sudah nggak makan nasi 1 tahun, kami pun langsung membeli nasi berikut lauk pauknya,, hehe.. Alhamdulillah hari ini kenyaaangggg sekali.

Malamnya, pesawat Air Malta mengantarkan kami ke Malta: di mana cerita perjalanan sebenarnya kami dimulai. Bismillahirrahmanirrahiim..



Add a Comment